Saya terpantik untuk membuat tulisan ini sesaat setelah saya menonton presentasi pak Suyanto, tentang Artificial Intelligence di salah satu kegiatan Tedx. Sebenarnya bukan disebabkan presentasi beliau tentang kecerdasan buatan, tapi lebih karena kisah Pak Suyanto yang beliau sampaikan di tengah presentasi tersebut.

Beliau bercerita tentang seorang mahasiswanya yang berhasil membuat karya yang mengagumkan bahkan bagi ilmuwan luar negeri. Salah satu hal yang mempengaruhi pencapaian mahasiswa tersebut adalah support dari sang dosen.

"mahasiswa itu adalah resource yang luar biasa, dan tugas saya hanyalah sedikit saja membangkitkan semangat mereka dengan kata-kata positif. Dan itu hasilnya sungguh luar biasa. Saya saja heran, saya sebenarnya pernah mengucapkan apa kepada kalian (mahasiswa)" kata pak Suyanto.

Read more »

Sepanjang sejarah Islam, wanita memiliki peran penting dalam menyebarkan kalimatullah.

Banyak contoh dari wanita-wanita hebat telah disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw, yang memuji keutamaan Maryam, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah ra ibunda kaum mukmin, dan Fatimah ra putri dari Nabi Muhammad Saw. Wanita-wanita hebat ini adalah teladan utama dalam hal produktivitas bagi muslimah modern yang ingin mencapai keseimbangan di antara kehidupan keluarga, pekerjaan, dan terutama agama mereka. Mari kita amati 4 orang wanita ini dan kita lihat apa yang dapat kita pelajari dari mereka.

Read more »

Menurut saya, Satu hal yang menjadi titik temu dari beberapa materi FIM14 di hari pertama adalah pentingnya building character. mulai dari karakter invidual setiap orang, sehingga menjadi sebuah ciri kolektif karakter sebuah bangsa. kita secara personal dapat sukses melalui karakter yang kokoh, begitu pun sebuah bangsa dapat menjadi besar karena kekuatan karakter masyarakatnya.

Pada stadium general, oleh bapak Ery Sudewo kami di ajak melihat ironi dari banyak kerusakan yang terjadi di Indonesia: pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, problem pendidikan, sosial, dan ekonomi lainnya. sementara makin hari, masyarakat Indonesia makin pragmatis. Mengapa? salah satu sebabnya karena pendidikan kita yang berat sebelah pada mengembangkan kompetensi (ingat KBK tahun 2004?) padahal pendidikan sebaiknya mengembangkan dua hal penting, yaitu Kompetensi dan Karakter.

bukan hanya itu, kultur Indonesia juga mendukung setiap orang untuk hidup dalam suasana passengers dan ketidakmandirian. Rhenald Kasali pada sesi keynote speech menunjukkan beberapa foto anak-anak Indonesia yang sedang dibedong, digendong, dan dituntun oleh orangtuanya "inilah yang menjadikan kita berkarakter seperti penumpang. tidak peduli pada kondisi jalanan, dan menuntut supir untuk paham segalanya".

Read more »

Blogger news

Blogroll