Aktualisasi Diri Para Pahlawan

“....kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng! Kami punya bahasa adalah bahasa yang keluar dari kalbu yang berkobar-kobar dengan semangat nasional, berkobar-kobar dengan rasa kecewa atas celaka dan sengsara rakyat” 

Begitulah, dengan berapi-api Bung Karno berpidato di depan pengadilan kolonial pada 1930. Bersama Bung Karno, di waktu yang lain ada Hatta yang juga berbicara lantang mengenai penjajahan bangsa Indonesia yang harus segera diakhiri. Hatta mengawali pidato pembelaannya dengan pertanyaan, mengapa di Indonesia anak-anak sekolah sudah berpolitik, tidak seperti di Barat yang baru mempersiapkan diri untuk itu? Selanjutnya ia menyebut nama organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Indonesia Muda, dan lain-lain. Di akhir, ia menjawab sendiri pertanyaannya tersebut:

...pemuda itu merasakan dan mengerti duka dan sengsara rakyat. Itulah sebabnya mengapa hampir semua organisasi pemuda di Indonesia mencantumkan dalam programnya tujuan sebagai berikut: peningkatan kesejahteraan sosial rakyat...pemuda-pemuda itu benar-benar merasakan hinaan karena dijajah..itu sebabnya putra-putra bangsa yang tidak merdeka itu, sejak dari usia mudanya, telah bergumul dengan pikiran-pikiran yang tidak dialami oleh pemuda-pemuda Barat yang sebaya dengan mereka” 

Bung Karno dan Hatta memiliki gaya berpidato yang tidak sama. Di depan mahkamah kolonial mereka melakukan tugasnya dengan berani untuk menentang penjajahan, jika diperhatikan, Bung Karno lebih to the point dengan pemilihan kata-katanya yang berbau perang, sedangkan Hatta walaupun tak kalah tajam, dalam pidatonya berusaha membuat pendengar bisa turut merasakan apa yang ia sampaikan: supaya para penjajah bisa turut membayangkan betapa menderitanya bangsa Indonesia saat itu. Hal di atas hanya satu dari sekian banyak titik perbedaan di antara Bung Karno dan Hatta. Sejak dua tokoh itu masih hidup hingga meninggalnya, banyak orang mencoba membandingkan perbedaan karakter dari dua proklamator itu.

Misalnya saja, Bung Karno lebih dikenal sebagai orator yang sangat ulung, yang bisa menghipnotis serta membangkitkan semangat rakyatnya. Sedangkan yang kita tahu dari Hatta, ia adalah seorang konseptor yang hebat,yang lebih banyak bermain di belakang layar, tapi konsep serta idenya sangat cemerlang dan punya visi jauh ke depan. Ada yang berpendapat buah pikiran Bung karno lebih banyak berjangka pendek, dan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu Mochtar Lubis pernah Berkata: Bung Karno itu orangnya idealis, senang bermimpi dan berandai-andai menjadi pemimpin dunia tapi ia lupa memikirkan nasib ekonomi bangsa Indonesia pasca-kemerdekaan. Sebaliknya, Hatta dinilai lebih berpikiran cemerlang dan punya visi jauh kedepan dan sangat relevan hingga saat ini (lihat saja idenya mengenai koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia). Bukan hanya itu, penampilan juga tak luput dari perhatian, Bung Karno disebut-sebut berpenampilan over dengan atribut militernya dan suka dipuji, sedangkan Hatta lebih sederhana dan bersahaja.

 Dua tokoh di atas hanyalah contoh dari sekian banyak sosok pahlawan lain yang berbeda dari segi kepribadian, watak, dan penampilan. Kalau kita bilang pahlawan itu dari kalangan Ulama, kita lihat Hatta dan Natsir lebih agamis daripada Bung Karno. Kalau kita bilang pahlawan itu harus dari kalangan militer, Agus Salim, Wahid Hasjim, Anwar Tjokroaminoto, Mohammad Roem dan lain-lain malah memiliki latar belakang kultur santri. Dan seterusnya, kita tidak bisa menentukan kriteria baku terkecuali mereka adalah orang-orang yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia dan mereka berjuang dalam proses kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Meski begitu, kita masih bisa menarik benang merah mengenai karakter positif yang dimiliki oleh para pahlawan kita, apa saja itu?

Ide dan Cita-cita Besar
Indonesia sering dijadikan teladan dalam hal kerukunan antar-umat beragama dan antar-suku, hingga kini kita mendapati bahwa rakyat Indonesia adalah masyarakat yang menghargai pluralitas. Fakta ini adalah sebuah semangat ke-bhineka tunggal ika-an yang merupakan sumbangan pemikiran dari founding father kita. Sehingga seorang peneliti politik Indonesia asal Rusia berkata bahwa Bhineka Tunggal Ika yang merupakan buah pemikiran Soekarno itu relevan dengan situasi Rusia masa kini (2010) yang multietnis dan multiagama, bahkan untuk negara-negara yang punya pluralitas yang sama. Inilah salah satu contoh ide besar pahlawan kita yang masih bisa kita rasakan pengaruhnya hingga sekarang. Hal yang hampir sama saat kita menengok kepada tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Sepak terjangnya dalam misi pembaruan Islam membawa manfaat terhadap perkembangan pendidikan Islam modern saat ini.

Kapasitas Individu yang Besar dan Kuat
Kapasitas disini menyangkut kemampuan intelektual dan kepribadian. Jika meruntut sejarah ke belakang, tidak mungkin Bung Tomo akan berhasil membakar semangat rakyat Surabaya jika ia memiliki sifat inferior dan penakut. Seorang orator, motivator, dan pembawa perubahan selayaknya memiliki mental yang kokoh, punya pendirian dan prinsip yang tak mudah goyah, serta kemampuan memimpin orang lain. Pahlawan kita juga memiliki kapasitas intelektual yang di antaranya bisa disebut luar biasa. Kita tengok Haji Agus Salim, beliau adalah seorang Polyglote, beliau mampu berbicara dalam berbagai bahasa seperti Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, dan Jepang selain bahasa Indonesia dan bahasa Daerah. Munculnya organisasi-organisasi pemuda juga tak lepas dari kebangkitan gerakan intelektual pemuda, yang kebanyakan dipelopori oleh kaum muda yang baru pulang belajar dari Eropa. Alhasil, memanfaatkan kapasitas intelektual yang mereka miliki untuk berbalik melawan penjajah.


Aktualisasi Diri
Ide-ide besar, kapasitas kepribadian dan intelektual yang baik tidak akan terlihat manfaatnya tanpa diaktualisasi. Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Istilah ini sering terdengar dari teoritikus humanistik seperti Goldstein, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Goldstein berpendapat bahwa aktualisasi diri adalah motivasi utama manusia sementara kebutuhan lainnya hanyalah manifestasi dari kebutuhan tersebut. Namun kita lebih populer mengutip pendapat Maslow bahwa ada lima tingkat kebutuhan manusia, yang berawal dari kebutuhan fisiologis seperti makan-minum, udara (bernafas), dan seks. Yang paling akhir adalah aktualisasi diri. Menurut Maslow, suatu kebutuhan tidak bisa terwujud jika kebutuhan di bawahnya belum terpenuhi. Pencuri yang sedang lapar mungkin tidak akan berfikir mengenai keselamatannya lagi saat ia dihadapkan pada resiko tertangkap polisi.

Pahlawan kita, adalah orang-orang yang berhasil mengaktualisasikan potensi-potensinya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. meskipun -bertentangan dengan pendapat Maslow- mereka tidak butuh memenuhi kebutuhan fisiologis, keamanan, rasa cinta, dan harga diri terlebih dahulu. Bahkan Hatta pernah berazzam bahwa ia tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Luar Biasa!.

4 comments

Blogger news

Blogroll