Sumpah(nya) Pemuda Hari Ini

Kami putra-putri Indonesia, bersumpah untuk menegakkan integritas dan kepedulian demi mewujudkan Indonesia adil dan sejahtera. 

Kami putra-putri Indonesia bersumpah untuk berkreasi dan berkolaborasi demi mewujudkan Indonesia unggul dan berdaya saing. 

Kami putra-putri Indonesia bersumpah untuk bekerja keras dan bertanggung jawab demi mewujudkan Indonesia lestari selaras dalam keberagaman. 

Masih asing dengan 3 bait ikrar di atas?
Ikrar tersebut tidak diada-adakan, layaknya sumpah pemuda 1928, ia juga dikumandangkan oleh pemuda perwakilan seluruh organisasi atau komunitas di seluruh indonesia dalam konferensi IYCS (Indonesia Young Changemakers Summit) yang kemudian disebut sumpah pemuda jilid 2, meski akhirnya karena beberapa hal berganti judul menjadi (bukan) sumpah pemuda jilid 2. Baik sumpah pemuda 1928 maupun (bukan) sumpah pemuda jilid 2 sama-sama hadir karena didorong oleh semangat zaman para pemudanya.

Sumpah pemuda 1928 terdeklarasi karena adanya rasa kesamaan dan keinginan untuk bersatu dalam sebuah tanah air Indonesia. Muhammad Yamin saat berpidato mengenai arti dan hubungan persatuan dengan pemuda, menyebutkan lima hal yang dapat memberkuat persatuan Indonesia; yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Unsur terakhir itu, yakni kemauan, yang pada akhirnya menggerakkan ratusan pemuda lainnya pada 12 februari 2012 untuk kembali mengukuhkan nasionalisme dengan beberapa bait sumpah yang menjadi pengingat bagi mereka untuk terus merawat Indonesia.

Kalimat-kalimat dalam (bukan) sumpah pemuda jilid 2 tersebut adalah hasil dari survey terbuka IYCS mengenai nilai-nilai yang representatif dengan karakter pemuda yang dibutuhkan oleh bangsa hari ini. Maka terangkumlah nilai-nilai integritas, kepedulian, kreatif, kolaboratif, kerja keras, dan tanggung jawab. Terlepas dari hasil survey IYCS di atas, di sini saya mencoba memaknai nilai-nilai yang saya rasa menjadi keharusan untuk kita miliki sebagai pemuda.


Pertama, Integritas. Seorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya. Hari ini, integritas adalah barang mahal. Betapa banyak aktivis mahasiswa yang berkoar-koar saat demo di jalanan menghujat para koruptor, tapi matanya tetap siaga melihat contekan kala ujian semester datang. Ia tidak sadar bahwa mencontek juga salah satu bibit korupsi, ia menyemai ketidakjujuran dan menodai idealismenya sendiri. Menjaga integritas bukanlah hal mudah, sehingga kadangkala memunculkan paradoks: Maunya mengadakan sebuah perhelatan akademis demi membangun generasi berkarakter, tapi ternyata menggunakan cara-cara yang tidak jujur, dana dikaburkan yang penting agenda tetap berjalan. Integritas juga membutuhkan keistiqomahan kita untuk menyuburkannya dalam hal-hal kecil sekalipun. Mengembangkan integritas berarti membangun sosok pemimpin yang amanah di masa depan.

Kedua, Kepedulian. Kepedulian kita seharusnya adalah kepekaan yang berujung pada tindakan. Puluhan Pengajar Muda mengabdikan hari-harinya selama setahun untuk mengajar di pedalaman Indonesia karena memahai kondisi pendidikan di Indonesia yang belum merata. Peduli itu juga tidak mudah, karena kita harus peka dan sadar. Sadar bahwa ada yang masih keliru di sekeliling kita (bahkan mungkin dalam diri kita sendiri). berempati pada suatu keadaan tanpa diikuti tindakan hanyalah bentuk keprihatinan. Oleh karena itu, kepedulian hampir selalu diikuti dengan kata kontribusi.

Ketiga, Kreatif : kreatifitas mendorong kita untuk terus mencipta (create) dan mengembangkan (develop). Indonesia pada 2025 “diramalkan” akan masuk ke dalam 10 besar negara dengan perekonomian terkuat di dunia (meski disaat yang sama krisis pangan masih terus mengancam). Anies Baswedan pada pidatonya di hadapan ratusan pemuda pernah menekankan untuk selalu think globally, act locally, dalam artian bagaimana para pemuda mampu melakukan aktifitas-aktifitas lokal dan sederhana namun berperan dalam program percepatan dan pembangunan ekonomi Indonesia, misalnya wirausaha. kalau kita berbicara enterprenuership, maka dengan kreatifitas kita dapat menghasilkan suatu produk yang berdaya saing. Kreatif dan inovatif jika tergabung dalam diri pemuda dengan sensitivitas sosial tinggi maka akan lahir sosok pemuda yang kontributif. Saya teringat pada pelajar SMP asal Salatiga, namanya Ara. Ara adalah seorang changemakers termuda IYCS. Apa yang ia lakukan? Sampai hari itu, Ara bersama orang tuanya memberdayakan puluhan peternak sapi di sekitar rumahnya. “habisnya, kayaknya rugi gitu kak, susu sebenernya kan barang mahal. Tapi kenapa peternak-peternak itu masih miskin aja” jawabnya ketika saya tanya “tapi sekarang produk olahannya gak Cuma susu sapi aja kak, ada ice cream dan yoghurt juga”. Hebat..Peduli dan kreatif. Dan yang lebih membuat kagum, Ara telah memulai aksinya sejak duduk di kelas 6 sekolah dasar.

Keempat, Kolaboratif. Kita tidak dapat berjuang sendirian di tengah PR problematika bangsa yang saling menuntut untuk dituntaskan. Aksi secara pribadi boleh dalam artian berlomba-lomba meraih prestasi dan pencapaian yang bermanfaat, tapi selain itu kita juga harus berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi Indonesia sejahtera. kolaborasi tersebut dapat kita lakukan dengan aktif dalam komunitas atau organisasi kepemudaan, apa saja contohnya? Banyak. salah satu yang menurut saya menarik adalah komunitas Ayo Sedekah Palu (ASP) Ayo Sedekah Palu digawangi oleh sekumpulan anak muda yang memiliki kesadaran sosial tinggi lalu menjadikan ASP sebagai wadah untuk berbagi kepada sesama. Tujuan mereka sederhana, yaitu berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan; seperti anak yatim piatu, kaum dhuafa, para janda, termasuk juga para korban bencana.

Kelima, Kerja keras dan tanggung jawab. Bagaimana anda memaknai kerja keras? Apakah saat kita melakukan sesuatu dan berkeringat karenanya? Oke, anggaplah begitu. Tapi saya punya makna lain; kerja keras adalah saat kita bertahan untuk tetap berjuang dalam proses yang tidak mudah menuju apa yang kita inginkan. Kerja keras berkorelasi negatif dengan hal-hal yang sifatnya instan. Tapi sayangnya, yang terakhir kini justru kadang banyak diminati oleh para pemuda. Be No.1 instantly, be popular instantly, etc. Ibarat makan mie instan untuk cepat kenyang, dalam belajar dan menaiki tangga karir juga seperti itu. malas membuat makalah, artikel di blog semuanya di copy paste tanpa peduli benar atau salah. Karena keinginan untuk menjajal jabatan tinggi di organisasi, akhirnya menjual idealisme dan menomorsekiankan proses kaderisasi yang sebenarnya dapat membentuk dirinya menjadi pemimpin sejati. Tiada kerja keras, diperparah dengan hilangnya tanggung jawab.

 Betapa banyak perusahaan atau organisasi yang carut marut karena karyawan atau anggotanya melalaikan tanggung jawab. Padahal ia adalah bagian dari totalitas dan komitmen yang sebenarnya dapat menguatkan setiap langkah dalam mengemban tugas. Munif Chatib dalam bukunya Gurunya Manusia bercerita mengenai tipsnya dalam memilih guru; ia lebih mendahulukan guru yang memiliki komitmen meski belum punya kapasitas dalam membuat lesson plan, alat pembelajaran, dan pendukung lainnya. menurutnya, mereka lebih baik daripada guru yang telah handal namun tidak memiliki komitmen. Karena guru yang pertama akan berusaha belajar dan meningkatkan dirinya, disebabkan ia sadar terhadap tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi seluruh anak didiknya.

Orang yang lari dari tanggung jawab disebut pengecut. Orang yang pengecut sering menghindari tugas dan bersembunyi dari kesalahannya. Bayangkan jika nanti negeri kita dipimpin oleh orang seperti itu. maka, jika anda pernah mendengar visi indonesia emas 2045, 2033, atau 2030, itu semua bertujuan untuk memutus rantai generasi gagal menuju generasi baru yang kelak menjadi pemimpin yang jauh dari sifat “pengecut” tersebut.

28 Oktober 1928, adalah saat pemuda perwakilan dari seluruh nusantara berikrar dengan kesatuan bangsa, bahasa dan tanah airnya. kini beberapa dekade telah berlalu, para pemuda dengan khidmat telah memperbarui ikrarnya. Sumpah adalah salah satu pengikat dan pengingat kita untuk memperjuangkan apa yang telah terlontar dari bibir masing-masing. Tidak hanya menjadi janji pada diri sendiri, tapi juga kepada Allah, mengenai masa muda, untuk apa ia dihabiskan.

No comments

Leave a Reply

Blogger news

Blogroll