Apa yang terlintas di pikiran kita kaum muda, saat mendengar kata politik? Apakah gambaran tentang para caleg yang saling menjatuhkan rival politiknya? Atau tentang seorang menteri yang terjerat korupsi? Anggota dewan yang tidur saat sidang berlangsung? Ataukah mengenai pemerintah yang mengeluarkan kebijakan yang tidak pro rakyat?.

Bagi sebagian orang, membicarakan politik bisa jadi merupakan hal yang tidak menyenangkan, bahkan seringkali pesimisme timbul saat kita melihat gambaran mengenai hal-hal yang disebutkan di atas. Tapi nyatanya, politik tidak melulu berupa rentetan berita yang membuat telinga panas dan sesak dada. Begitu juga, siaran berita tentang perpolitikan nasional tidak hanya untuk konsumsi para orang tua. Di sini saya memiliki lima alasan mengapa kaum muda harus menanggalkan persepsi negatif mengenai politik dan kemudian berpartisipasi aktif di dalamnya:

Read more »

Program berita di sebuah stasiun televisi swasta pada 4/12/2012 sedang menayangkan laporan khas redaksi mengenai penyebab fenomena perceraian dalam rumah tangga, terutama hubungannya dengan usia perkenalan antara suami istri sebelum menikah. Kemudian ditampilkan beberapa komentar dari para pakar, termasuk Psikolog. Kassandra, sang Psikolog lalu menanggapi “konon katanya...” ujarnya terlihat kurang yakin “usia pacaran yang kurang dari 6 bulan, atau lebih dari 3 tahun menjadi sebab ketidakharmonisan dalam hubungan suami istri” titik.

Kemudian tayangan berganti dengan scene yang lain. Sebuah pandangan yang sangat mentah untuk diambil sebagai justifikasi hubungan sebelum menikah, karena terbukti faktanya tidak selalu demikian. Anda mungkin juga dapat menyebutkan beberapa contoh di mana perkenalan dalam pacaran bukanlah ukuran keharmonisan rumah tangga, dan lamanya perkenalan apalagi tidak adanya hubungan pacaran tidaklah berarti suami-istri tersebut rentan mengalami perceraian.

 Yang menjadi sorotan saya pada tayangan tersebut adalah peran Psikolog, di mana mereka – seperti yang kita ketahui – seringkali menjadi rujukan dalam memahami problematika di masyarakat. sehingga perlu bagi mereka untuk selalu memperhatikan ucapan dan tindakannya, karena sebagian besar dapat menjadi hujjah bagi orang awam yang mempercayainya.

Read more »

Pernahkah anak atau adik anda meminta uang untuk aneka macam kegiatan di sekolah?
biaya ekskul? uang LKS dan buku paket? biaya ujian? daftar ulang? uang les? uang bangunan? 
hati-hati, karena bisa saja itu adalah pungli (pungutan liar).

Saya cukup terkejut dengan deretan jenis pungli yang disodorkan oleh bu Yekti saat saya mewawancarai beliau pagi tadi. "wah, berarti dulu saya kecolongan dong bu" kata saya. bu Yekti tersenyum, katanya terlebih sekarang saat biaya pendidikan menjadi lebih mahal.

Terhitung ada 57 jenis pungli yang teridentifikasi oleh Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Malang. bahkan kata bu Yekti, salah seorang aktivis FMPP, SPP juga bisa termasuk jenis pungutan karena seperti kita tahu bahwa sekolah negeri setingkat SD dan SMP sudah terbebas dari biaya pendidikan dengan  adanya wajib belajar 9 tahun. 

Read more »

bentuk OCD yang paling umum ditemui
adalah mencuci tangan terus menerus
Apakah anda sering menghabiskan banyak waktu untuk berwudhu? atau anda sering lupa -sudah berapa rakaat- saat mengerjakan shalat? atau anda sering merasa berada dalam kondisi berhadas? nah, ini adalah solusi Islam untuk masalah anda, berupa pedoman komprehensif melalui beberapa langkah untuk mengatasi Gangguan Obsesif Kompulsif (was-was). Di kehidupan sehari-hari, kita mendapati bentuk-bentuk OCD sebagai berikut: 

1. Obsesi: ketakutan akan terkontaminasi, selalu menginginkan ketelitian dan keteraturan , keraguan yang patologis, serta penghujatan 
 2. Kompulsi: mencuci/membersihkan, keteraturan/ketelitian, mengecek terus-menerus 

Kurang lebih ada 1/2 - 3/4 orang dengan OCD memiliki obsesi ganda. sementara bentuk OCD yang paling sering dimiliki oleh ummat Muslim adalah: 

Read more »

Seseorang tidak dapat hidup tanpa visi walaupun untuk esok hari. Dan, seseorang perlu mengenali dirinya sebelum menentukan visi hidupnya. Setuju? :)

Karena itu, pagi tadi saya berinisiatif untuk ngisi mentoring dengan game pengenalan diri, tanpa materi keislaman seperti biasanya.

Anw, beberapa mentee saya ada yang masih baru, dan ternyata lumayan pemalu. Di awal, saya coba mencairkan suasana dengan nanyain pencapaian akademik mereka di semeter kemaren, alias IP (indeks prestasi), nah dari sini mereka mulai senyam senyum gak jelas..hehe..*kena kalian*

Setelah mereka curhat tentang indeks prestasinya, saya ngeluarin pulpen warna warni dari tas. Dan mulailah mereka sumringah saat saya ngasih kesempatan untuk memilih warna yang mereka suka, sambil saya bilang: jika hasil di semester ini meningkat atau sesuai target, maka ini reward untuk kalian. Tapi kalau memang menurun dan gak sesuai target, maka setiap kali kalian pakai pulpen itu, ingat kalau mbak punya harapan supaya kalian bisa lebih baik di semester ini *tsah*, mereka keliatan seneng banget (inget, hal-hal kecil bisa sangat berarti bagi mentee kita).

Read more »

Blogger news

Blogroll