Psikologi Islami, kapan?

Pertanyaan besar ini masih terpatri di dalam benak saya. kadang membakar jiwa saya dan seakan mampu menggerakkan sendi-sendi saya untuk bertindak. walaupun ini bukan hal yang mudah. nyatanya konsep "islamization of science" sendiri masih ambigu dan ditanggapi beragam oleh banyak pihak. beberapa pakar yang menuangkan gagasan mereka mengenai pola islamisasi ilmu pengetahuan (selanjutnya silahkan baca Lima Konsep Islamisasi sains), banyak juga yang melontarkan sikap kontra mereka kepada konsep ini (baca makalah Islamisasi Sains).

sementara psikologi Islami sendiri, di tengah kontroversinya masih dalam tahap "merangkak" bahkan mungkin masih berada di bawah itu. dalam hal ini saya sendiri berpegang pada proses pembangunan psikologi Islami ala Prof Dr Malik Badri, pendapat beliau sehubungan hal ini :

"Membangun psikologi Islami tidak semudah membalik telapak tangan. Ia memerlukan kerja kolektif yang serius dan makan waktu lama. Prosesnya terdiri dari tiga tahap. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan Muslim tentang jiwa manusia, Tahap berikutnya, setelah kajian-kajian semacam itu dilakukan, mulailah sedikit demi sedikit membangun psikologi kita sendiri –psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita sebagai Muslim. Dan ini perlu dilakukan dengan sikap “seolah-olah psikologi Barat itu tidak ada sama sekali” (forgetting the Western psychology, as if there is no psychology at all!). Nah, sesudah itu baru kita coba gagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi. Jadi, psikologi Islam itu bukan sekadar justifikasi ilmu Barat dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis"

frasa terakhir dari ucapan Prof Dr Malik Badri di atas seakan menyinggung fenomena "ayatisasi" yang menjadi tren dewasa ini. seakan-akan ilmu akan menjadi islami jika disinggungkan dengan ayat Al-Qur'an maupun hadits. meminjam sebuah ungkapan: bahwa Islam itu bukanlah sekedar nama, melainkan juga perilaku.
maka jika mazhab Psikologi Islami belum mencapai kelahirannya, maka dalam penantian (dan usaha dalam kerja besar ini), berperilakulah sebagai seorang psikolog muslim.

beberapa hari yang lalu saya iseng meminta pendapat seorang kenalan mengenai gagasan Islamisasi ilmu khususnya dalam bidang Psikologi, sekaligus ingin mengetahui antusiasmenya mengenai wacana ini, ia menjawab :

Ofcourse, 'islamization of science' is an important topic. This needs a lot of hard work now, because 'science' is no more in our hands, and even the real 'islamic essence' is not in our hands. These researches in the right direction can only be achieved once we have a place where Islam is truly practiced.
For, now, individuals or groups have to 'sacrifice' the material wants and dedicate themselves fully to exploring and explaining the islamic aspect of Science, with the rule 'Quran and Hadith is superior than science' in mind. Psychologists specially have a lot of work to do, but I feel they aren't really doing anything at present, the way I perceive it needs to be done. If you say, I can write an article on ' Psychology without metaphysics ', it will tell what I feel is the way to go forward on it. Remember my knowledge on psychology is pretty minimum, but I consider myself a thinker.
setidaknya ini membuat saya kembali bersemangat untuk lebih banyak belajar :D

by the way, saya membuat logo di bawah ini -  terinspirasi oleh kesimpulan Franzv Rosenthal penulis buku Knowledge Triumphant (Keagungan Ilmu) bahwa “ilmu adalah Islam”

6 comments

  1. terima kasih atas kunjungannya..dan kutunggu komentarnya
    maaf ya saya bukan guru..hanya senang topik pendidikan

    ReplyDelete
  2. maaf bunda, saya juga sempat ragu..
    tp bunda meyakinkan banget.. hehe


    kutunggu komentarnya <-- oke Bunda :)

    ReplyDelete

Blogger news

Blogroll