Dunia Tidak Butuh Miss World

Tulisan ini mendukung pertanyaan telak Michelle Toglia melalui lansiran dari yourtango.com, apakah dunia butuh Miss World?

Seperti akan meledakkan keresahannya, Toglia mempertanyakan mengapa kontes kecantikan yang sudah sangat kuno masih populer hingga hari ini. Mengapa cara berpose, memakai bikini, dan mahkota berlian masih dianggap ukuran kecantikan wanita modern. (Kita tahu bahwa ajang Miss World sudah dilaksanakan sejak 1920, dan tidak ada yang berubah pada unsur penilaian kecuali ditambahkannya kriteria "beauty with a purpose" pada 1980).

Di ajang Miss World, selama karantina para peserta dilatih untuk berbicara, berjalan, dan makan dengan cara tertentu. Sementara, selain juri, penonton televisi juga diajak untuk menilai mana wanita yang paling cantik, paling seksi, paling "terlihat" cerdas, dan anggun. Walhasil, semua menjadi kebohongan industri, dan keluaran dari ajang internasional ini  -meminjam istilah Toglia- , adalah wanita cantik yang polos: Menggambarkan bagaimana para wanita itu dibentuk untuk menjadi "sempurna" di mata semua orang. Ia harus selalu tersenyum, berbicara lembut, dan menampilkan sisi kecantikan fisik dan kecerdasannya. 

Dari lansiran wikipedia.com, Sejak diluncurkan pada tahun 1951, Organisasi Miss World telah mengumpulkan lebih dari £ 250 juta untuk badan amal anak-anak. Tapi ini tidak menjadi pembenaran untuk melakukan eksploitasi pada wanita dengan alasan kegiatan amal. Nyatanya sejak diadakan pertama kali hingga sekarang, Miss World lebih menyajikan tononan ala kontes bikini daripada sisi edukasi dan pemberdayaan wanita.

Jangan sampai kita tertipu, karena ukuran kecantikan bahwa wanita harus sempurna secara fisik hanyalah tuntutan Media. Sangat tepat jika ada yang bilang bahwa Miss World bukan bagian dari budaya kita. Di Amerika, banyak orang tua, guru, serta pakar pendidikan kerepotan karena ulah media. Di sana media membentuk mindset anak-anak sedemikian rupa mengenai tolak ukur kecantikan, bahkan sejak mereka baru duduk di sekolah dasar.

Di Amerika (dan banyak negara lain) terdapat sebuah gejala yang disebut sexism. Fenomena ini mulai "menyerang" anak perempuan usia 7-8 melalui....boneka barbie. Di usia itu, boneka barbie didesain dengan mata yang indah, pipi yang merah, dan baju yang cantik dan menarik menurut ukuran anak sekolah dasar. sexism ini berlanjut ketika anak bertambah usia. Boneka barbie seperti apa yang dibentuk? yaitu, boneka perempuan dengan body yang langsing, payudara besar, rambut yang indah, dan sebagainya. Dan ini adalah awal bagaimana anak-anak Amerika mulai belajar mendefinisikan kecantikan.

Tidak hanya itu, media juga seringkali menyuguhkan tontonan yang mengesankan bahwa hanya wanita cantik dan seksilah yang akan dikejar oleh banyak pria. Ini menjadi sebab mengapa banyak anak perempuan mengalami gangguan kesulitan makan, atau anorexia nervosa. Mereka ingin selalu tampil seksi, bahkan tidak ingin melihat sedikit lemak bertanggal di tubuhnya, lalu melakukan diet habis-habisan. Ini adalah salah satu kasus utama yang ditangani psikolog Amerika, sampai hari ini banyak kelompok-kelompok konseling dibentuk untuk menyelamatkan remaja mereka dari harga diri rendah dan gangguan kesehatan karena ingin mengejar ukuran kecantikan yang ternyata hanya tipuan.

apakah itu yang inginkan pada anak-anak di Indonesia? Sebaiknya kita sadar mengenai hal ini sejak awal. Berhenti mencari-cari alasan untuk membenarkan dan mendukung ajang Miss Wold, bahwa ini bermanfaat untuk kemajuan Pariwisata, kegiatan amal, dan sebagainya. Bahkan jika dibandingkan, mudharat (kerugian) disebabkan oleh perhelatan ini lebih banyak daripada manfaat yang diberikan, salah satunya adalah dampak buruk bagi psikologis wanita itu sendiri. 

Bahkan sebelum kita berbicara mengenai kecantikan wanita dalam Islam, sebenarnya banyak orang sudah bersepakat bahwa inner beauty lebih utama dari pada kecantikan luar. Belajar, melakukan aktivitas sosial, membangun interaksi yang baik dengan banyak orang, serta melakukan aktivitas produktif lainnya lebih membuat wanita tampak cantik daripada harus mengumbar aurat dengan cuma-cuma.

_________________
*terus nyatakan penolakanmu terhadap ajang Miss World dengan hastag #TolakMissWorld #BatalkanMissWorld

5 comments

  1. Tulisan yg menarik. :)
    secara pribadi saya (sangat) tidak antusias bahkan tidak peduli dengan ajang-ajang kecantikan semacam miss world, termasuk ajang kecantikan yg dibuat di negeri ini apapun esensinya.

    cantik/seksi telah menjadi industri media utk menjualnya.

    ReplyDelete

Blogger news

Blogroll