Am I Happy? (& Recipe Of Happiness)

Dulu saya pernah berbisik dalam hati (untuk tidak mengatakannya berdoa) bahwa saya ingin benar-benar mengenal Tuhan melalui proses pencarian. Dan dalam benak saya menyanggupi betapapun sulitnya perjalanan itu nanti.

saya sangat menyukai satu momen dimana saya menemukan hal baru yang memuaskan hati dan menambah pengetahuan saya akan kehidupan. Saya tau dan semua orang tau dunia ini begitu luas. Dan saya ingin merasakan Tuhan dimanapun kaki saya berpijak.

Namun belakangan hari ini saya gelisah.
Entah apa karena bisikan hati saya tempo hari, apa karena desakan hati ini adalah awal dari pencarian panjang nanti.. Saya mulai bertanya tentang kebahagiaan, ketenangan, kehidupan yang menyenangkan, bermakna, penuh rasa syukur.

Saya tidak punya jawaban untuk itu, bahkan untuk menjawab apa itu bahagia (mungkin karena hati saya sedang diliputi rasa gelisah, was-was, takut, dan perasaan buruk lain). Hari-hari belakangan memang saya berada dalam kondisi terburuk saya: putus asa, hilang semangat, tidak percaya bahkan kadang benci kepada diri sendiri. Saya tidak puas dengan hidup saya saat ini. 

Mungkin sama dengan yang dituliskan Rene Suhardono dalam bukunya:
"hidup saya diwarnai oleh rencana-rencana yang saya adopsi dari sumber eksternal tanpa pemahaman mengenai diri sendiri. Saya sibuk mempersiapkan diri untuk hidup, tapi justru lupa untuk menjalaninya.."

Saya sebenarnya bisa memahami bahwa bahagia dimulai dari perasaan syukur. Apapun bentuknya pasti diawali oleh itu. Hingga hal-hal terkecil yang dialami oleh  seseorang. Makanya ada yang bilang "bahagia itu sederhana". Karena dia sedang mengalami situasi yang menyenangkan, dan ia bersyukur. Maka bahagialah.

Definisi bahagia adalah milik setiap orang. Saat saya tanya "apa itu bahagia?" kepada beberapa sahabat, mereka punya jawaban yang berbeda. Seorang sahabat mengatakan bahwa bahagia itu saat kita berusaha menjadi seperti yang Dia minta.
Jernih.
Penuh kebaikan dan ketaatan.
Tapi entah mengapa saya merasa itu masih absurd.
Saya tidak tahu bahwa kebahagiaan memerlukan tolak ukur. Entahlah. Tapi saya akui itu memang benar. Saya pernah merasakannya dan kini saya terlupa dalam waktu yang lama.

Saya tidak akan menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang saya rasakan, selama saya tahu penyebab dan bagaimana mengatasinya. Saya akan terus bertanya pada diri sendiri "how are you?" dan benar-benar yakin saat memberikan jawaban pada diri sendiri pula.

Saya tidak ingin menggunakan definisi siapapun mengenai kebahagiaan, bahkan dari Victor Frankl ataukah Martin Seligman. Saya ingin menemukannya sendiri.

Are you happy?
Can you be happier?
What's really important in your life?

Suatu saat akan saya jawab itu sendiri. Dengan menyadari..
Saya tidak sempurna
Saya butuh membuka diri pada hal-hal baru
Saya butuh menantang diri pada hal-hal yang menjadi ketakutan saya.
Hidupku hanya sekali dan tidak akan ada yang sia-sia.

----
(Sambungan ini saya ketik beberapa jam dari saat saya menulis beberapa paragraf di atas)

Saya teringat sebuah hadits Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam yang mengabarkan keadaan seorang Muslim. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, dan saat diberi nikmat ia bersyukur. Saya ingat dan seketika saya sadar ini dia resep kebahagiaan itu. Sayangnya, saya sering lalai tidak melakukan keduanya.

Bukanlah mengutuk kehidupan dan keadaan diri sendiri, saya sadar hal yang benar adalah terus menjalani hidup...rutinitas pada setiap peran-peran kita sambil bersabar dan bersyukur. ini adalah satu-satunya cara menjalani hidup dengan bahagia.

Dalam sepenggal konklusi yang singkat ini, saya tidak sedang memberi nasihat kepada pembaca atau menggurui, tapi ini benar-benar nasihat untuk diri saya sendiri (karena memang saya suka memikirkan sesuatu lalu mencari penyebab atau solusinya sendiri).
Semoga kita (saya dan anda yang sedang membaca ini) bisa senantiasa bahagia...

tentunya dengan, menikmati hidup ini.

4 comments

Blogger news

Blogroll