Kriminalitas Remaja = Kegagalan Attachment

Sudah baca berita tentang kasus penyiraman air keras oleh pelajar SMA? kalau belum, baca di sini. Peristiwa penyiraman air keras itu sempat jadi headline di media-media nasional. Bayangin aja, Tompel, seorang pelajar SMA gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nyiram air keras ke penumpang bus yang notaben nya dia juga gak kenal. serem juga bacanya. masyarakat banyak yang berkomentar, ada yang bilang ini karena kegagalan sistem pendidikan, karena pergaulan remaja yang udah rusak, dan lain-lain deh. Tapi sebelum kesitu, menurut saya ada faktor psikologis yang lebih mempengaruhi: yaitu low self esteem, karena kalau saja si anak punya harga diri yang tinggi, dia akan memilih lingkungan pergaulan yang lebih baik, dan menghindari diri dari perilaku menyimpang.

lalu, dari mana awalnya si remaja mengembangkan harga diri yang rendah itu? apakah dari kegagalan pendidikan? iya, dan lebih tepatnya pendidikan dari dalam rumah.

untuk kita ketahui, hal paling pertama yang harus dibangun oleh orangtua bersama anak adalah kelekatan (attachment). Jika kelengketan terbangun dengan baik, hubungan anak dan orangtua menjadi erat. Seperti yang dilansir oleh kitadanbuahhati.com, manfaat besar yang dihasilkan dari attachment pada anak adalah anak akan tumbuh dengan cerdas, positif, bisa bekerjasama, memiliki emosi yang baik, peka terhadap orang lain, suka menolong, sekaligus memiliki kecakapan bahasa yang baik.

"Kelengketan merupakan sesuatu yang sangat istimewa dan berperan penting dalam membangun kecerdasan emosi (emotional quotient) anak. sebuah hasil menunjukkan, anak yang kurang erat dengan ibu ayahnya tampaknya normal tapi neurologis dan fisiologis berbeda. Karena kelengketan ayah dan ibu dengan anak-anaknya membangun dasar-dasar diotaknya. Kelainan ini 20% merupakan kelainan bawaan, namun 80%nya terjadi akibat perlakuan atau pengasuhan yang kurang baik. Anak-anak yang kelengketannya dengan orangtuanya kurang, bisa terlihat pada kecerdasan fisik, emosi dan motoriknya" demikian penjelasan Elly Risman, Pakar tumbuh kembang anak.

Dari pengasuhan yang diberikan dalam keluarga, ayah dan ibu punya peran yang berbeda lho. Ayah memiliki porsi yang lebih besar dalam membantu anak untuk cerdas dan tangguh menghadapi dunia luar. mau tau contohnya? coba deh ingat-ingat waktu kecil dulu, saat kita belajar sepeda dan jatuh, (pada umumnya) ibu akan berteriak-teriak histeris (setelah itu baru menolong kita) sementara ayah akan langsung menghampiri dan membantu kita untuk bangkit.

yang saya ingat juga dari kebersamaan dengan ayah adalah saat beliau pertama kali mengantar saya ke sekolah, menyemangati saya saat menjadi ketua OSIS, menyuruh saya untuk rajin mengirim tulisan di koran lokal, dan mengantar saya ke perantauan sambil menepuk-nepuk pundak saya untuk tidak bersedih. My Dad makes me stronger.. 

nah, ternyata anak yang memiliki kedekatan dengan ayahnya diyakini akan memiliki kemampuan belajar yang baik, rasa percaya diri tinggi serta mudah bergaul. Tapi sayangnya, Indonesia kini menjadi negara peringkat ketiga di dunia sebagai "fatherless country". Negeri tanpa ayah. Dimana ayah hadir secara fisik namun tidak ada secara hati dan pikiran dalam keseharian anak-anaknya.

oleh karena itu, bunda Elly Risman, juga selalu menekankan akan kesiapan para anak muda sebagai calon ibu dan calon ayah, agar anak-anak yang lahir dari keduanya tidak menjadi korban kegagalan pengasuhan *walaupun ayah dan ibunya dulu-dulunya korban father/motherless juga :-D

caranya supaya siap jadi calon orang tua gimana? ya belajar dong. hehe. walaupun ada sebagian dari kita yang tidak pernah disiapkan menjadi orang tua. *waktu bunda Elly Risman ngomong gini di sebuah workshop, semua peserta langsung hening se-heningnya :-p

walhasil, semoga gak terjadi lagi seperti kasus Tompel di atas, setidaknya beberapa tahun ke depan, karena yang ada hanya anak-anak cerdas dengan harga diri positif, dan lahir dari orang tua luar biasa seperti kamu, mungkin salah satunya. amiin :)

4 comments

Blogger news

Blogroll